“Ray.. Bokep oohh.. “Ray, aku tidak mau begini.”
“Nia, please..” kukecup bibirnya, sama sekali tidak merasakan penolakannya. my lady.”Ternyata begitu, hmm.. “Oke,” katanya. umm.. “Nih..” ujarku saat mengecup bibirnya dan dadanya. “Aku sebenarnya juga mau.”
Wah, ini luar biasa, pikirku. “Memang anaknya seperti itu, Ray?” lanjutnya. Kubuka lemariku dan mengambil sebotol Bacardi yang isinya tingal setengah. Shit! ahh..” Sayang, jangan mendesahkan nama Tuhan sekarang, paling tidak jangan saat ini. Soalnya di sana satu-satunya toko buku bermutu dimana kita bisa membaca gratis. “Bentar saja..” sahutku, dan langsung mengambil kunci mobil dan tanpa menunggu seruan mamaku, aku membawa mobil papa keluar rumah.Di jalan kutenggak teh pahit yang selalu kubawa di saku jaketku.




















