Bukit-bukit di dada Eksanti naik turun seiring dengan desah nafasnya yang memburu. Bokeplive Aku mengangguk. Dia mencoba menarik turun agak ke bawah ujung celananya untuk menutupi pahanya yang sedang aku nikmati.“Mas, mau bicara apa, sih?”, katanya tiba-tiba. dan sesekali bergoyang untuk menetralisir ketegangan yang dialaminya.“Mas, nanti kita terlalu jauh, Mas..”, ujarnya perlahan sambil menatap sayu ke arahku. Aku mengetuk pintu perlahan sambil memanggil nama Eksanti. Pipinya masih kelihatan memerah bekas cumbuanku tadi. Akhirnya dia tersenyum juga. Bagaimanapun juga, kita pernah merasa deket Mas”, sepertinya Eksanti memafkan dan memaklumi perbuatanku barusan. “Makin pintar saja dia menggoyang”, batinku dalam hati. Celana dalam hitam yang dikenakannya begitu mini sehingga rambut-rambut pubis yang tumbuh di sekitar kewanitaannya hampir sebagian keluar dari pinggir celana dalamnya.




















