Makin lama makin jelas. Bagiku itu sudah jauh lebih nikmat daripada bercerita. Bokeplive Aku tersetrum. Dadaku berguncang. Sekali. Esoknya, dari rumah kuitung-itung waktu. Lihat saja ia sudah separuh berlutut mengarah pada Junior. Masih terasa tangannya di punggung, dada, perut, paha. Sial. Ia menikmati, tangannya mengocok Junior.“Besar ya..?” ujarnya.Aku makin bersemangat, makin membara, makin terbakar. Aku menurut saja. Ah. Jendela kubuka. Toh ia sudah seperti pasrah berada di dekapan kakiku.Aku harus, harus, harus..! Lalu dikocok-kocok sebentar. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Ia tidak melanjutkan kalimatnya.Aku tersenyum. Ia hanya menampakkan diri separuh badan.“Mbak Hawin.., aku mau makan dulu. Kali ini dengan telapak tangan. Jangan dimasukkan dulu Sayang, aku belum siap. Hanya suara kebetan majalah yang kubuka cepat yang terdengar selebihnya musik lembut yang mengalun dari speaker yang ditanam di langit-langit ruangan.Langkah sepatu hak tinggi terdengar, pletak-pletok-pletok.




















