Namun aku sendiri masih ragu sebab salon ini benar-benar seperti salon pada umumnya.Setelah beberapa menit menunggu, aku ditegur oleh reception bahwa aku sudah dapat potong rambut sambil menunjuk ke salah satu tempat yang kosong. Bokep Seperti disambar petir mendengar kata-katanya, dan secara reflek aku menengok ke kiri melihat dia, tampaknya dia serius dengan apa yang barusan ia katakan. “Eh… elo baru dateng?” tanyaku. Kubuka kancing celananya. Pikiranku sudah melayang-layang jauh entah ke mana. Tubuhku semakin lama semakin melengkung ke belakang kepalaku sudah terdongak ke atas. Stella melanjutkan perjalanan lidahnya, naik semakin ke atas, perlahan-lahan. Kutundukkan kepalaku untuk melihat yang sedang dikerjakan Stella pada kemaluanku. Begitu sensitifnya hingga bisa kurasakan kenikmatan hisapan dan jilatan Stella begitu merasuk dan menggelitik seluruh urat-urat syaraf yang ada di sana. Diberilah sebuah ciuman di pipi kiriku sambil memeluk.




















