Apalagi yang dapat tertinggal? Bokeplive Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Atau kesialan, karena ia masih mengangkat tabloid menutupi wajah? Aku kira aku sudah terlambat untuk bisa satu angkot dengannya. Alamak.., jauhnya. Sekali. Ia tepat berada di tengah-tengah. Creambath? Juniorku tegang seperti mainan anak-anak yang dituip melembung. Dari jarak yang dekat ini hawa panas tubuhnya terasa. Atau mau gunting? Mulutnya persis di depan Junior hanya beberapa jari. Kemudian menyerahkan celana pantai.“Mbak Wien, pasien menunggu,” katanya.Majalah lagi, ah tidak aku harus bicara padanya. Makin lama makin jelas. Ia terus mengelap pahaku. Suara yang kukenal, itu kan suara yang meminta aku menutup kaca angkot. Ia tersenyum melihatku.“Maaf Mas, sapu tangan saya ketinggalan,” katanya.Ia mencari-cari. Atau jangan-jangan ia juga disuruh ibunya bayar arisan. Ia memulai pijitan.




















