“rumahmu di mana?”
“Terus saja sampai ke simpang Semangka.”
“Baiklah.” Itu saja. Aku terbangun dengan tubuh tertekuk, telanjang dan pegal, mendapati dirinya tak ada di sampingku. Bokeplive Ia tertawa. Kupejamkan mataku. Ia melepaskan bibirnya dan menggeleng, saat aku bergerak hendak memeluknya. Tak berapa lama kemudian aku sudah duduk dalam keadaan telanjang bulat. Kamu akan mengantarku pulang, bukan?”
“Tentu saja. Aku tak perduli. Kali ini senyumnya melebar. “Kamu…,” ucapku. Kuturunkan tubuhku dari sofa, lalu berlutut di samping tubuhnya yang terlentang. Kepalanya terangkat. Sama sekali tak ada emosi di sana. Aku malu seketika. Tanpa sadar aku mengerang saat jemarinya menempel di selangkanganku. Aku malu seketika. “Aku..ah… maafkan,” bisikku setelah sadar bahwa aku terlalu cepat baginya.




















