Kami berdua berdiri hanya dengan pakaian dalam kami.Si Kumis berkata sesuatu yang sama sekali tidak dapat kumengerti. Menurut perkiraanku mereka ingin kami berdiri menghadap tembok. Bokeplive Informasi ini kuteruskan ke Sherly yang tidak mengerti sama sekali perkataan si Kumis.Dengan enggan kami membalik badan kami menghadap tembok. Aku merasakan rasa asin yang kutahu berasal dari darah yang mengalir dalam mulutku. Lalu ia membuka koper itu dan mulai mengacak-acak isinya.Isi koper itu hanyalah pakaian-pakaian dan peralatan kosmetik Sherly. Setelah lima menit berlalu dalam keheningan, tiba-tiba istriku mengeluh (lebih menyerupai mendesah), Aku melirik ke arahnya dan mendapati ia tidak lagi menutup matanya. Sekilas aku melihat dari cermin, si Tegap menggerayangi payudara Sherly walau hanya sebentar. Cepat laksanakan!




















